Sumber: Antara,
Madinah (ANTARA News) – Haji mabrur seseorang yang telah menunaikan ibadah haji ditandai dengan adanya reformasi perilaku, terutama perilaku spiritualistik (keagamaan) di dalam dirinya.
“Tanda-tanda haji mabrur itu bila seseorang mengalami reformasi atau perubahan perilaku di dalam dirinya, khususnya kehidupan keagamaan,” kata ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) ‘Al-Mabrur’ Pamekasan, Madura, KH Hasbullah Fadholi di Madinah, Minggu.
Menurut pimpinan rombongan kloter (kelompok terbang) 74 SUB (Surabaya) itu, perubahan perilaku keagamaan itu secara fisik terlihat dari semakin bertambahnya ibadah seseorang, misalnya mereka yang semula malas menjadi aktif salat.
“Saya sendiri merasakan hal itu, saya semula tidak pernah salat tahajud (salat malam), tapi sekarang seperti ada dorongan kuat untuk salat malam,” kata pimpinan dari 267 orang jemaah dari Madura, Jatim yang telah enam kali menunaikan ibadah haji itu.
Senada dengan itu, ketua KBIH “Takhobar” Surabaya, Jatim H Imam Ghazali S mengatakan perubahan perilaku memang merupakan tanda haji mabrur, namun tanda-tanda itu juga harus bersifat holistik (menyeluruh).
“Artinya, nilai mabrur itu harus bersifat proses mulai dari pra haji, saat pelaksanaan haji, hingga pascahaji. Kalau hanya pascahaji masih kurang sempurna,” kata dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya itu.
Menurut pimpinan rombongan jemaah haji kloter 58 SUB (Surabaya) itu, proses pra haji itu antara lain terlihat dari niat dan sarana haji dari seseorang.
“Kalau dia menunaikan ibadah haji dengan niat bukan karena Allah Swt, tapi naik haji untuk dipuji, naik pangkat, dan perbaikan ekonomi, maka nilai mabrur yang akan sulit didapat, apalagi bila dia menggunakan sarana atau ongkos yang tak halal,” katanya.
Untuk saat pelaksanaan, katanya, akan sangat ditentukan seberapa prosentase pelaksanaan haji seseorang mendekati cara haji yang diterapkan Rasulullah.
“Untuk hal-hal yang sunah tentu masih dapat dipahami, tapi kalau hal-hal wajib yang ditinggalkan, tentu akan berdampak dalam nilai mabrur, sedangkan untuk pascahaji terlihat dari perubahan spiritualistik dan perubahan hubungan sosial,” katanya.(*)